Entah mengapa saya terkesan dengan buku ini. Kisah nyata yang tragis dan ditulis dari tangan pertama yang berhasil mewawancarai Firdaus sebelum hukuman mati diberikan. Dr el-Saadawi (seorang psikiatris dan penulis) menuliskan kisah Firdaus dengan lugas namun liris.
Firdaus dibesarkan dalam keluarga yang 'keji': ibu dan anak-anak baru diperbolehkan makan setelah ayah selesai. Air liur mana yang tak mengalir ketika menatap seorang yang dengan lahap menyantap makanan (apalagi setelah seharian bekerja keras)? Ayahnya bisa makan malam dengan lahap ketika anak perempuannya meninggal, dan memukul ibunya ketika anak lelakinya meninggal.
Umur 18 tahun, Firdaus dikawinkan dengan seorang Syeikh berumur 60 tahun. Yang agak menjijikkan, syeikh ini mempunyai bisul bernanah di dagu. Malam pertama tentu bukan sesuatu yang romantis dan sakral. Hari-hari berlalu dan perlakuannya terhadap Firdaus melebihi batas; Firdaus dipukul hingga berdarah, harus patuh dan bekerja keras. Apa yang salah di Mesir ketika perempuan ditindas? "Adalah biasa suami memukul istri," kata pamannya ketika Firdaus mengadu telah dianiaya suaminya.
Firdaus melarikan diri. Ia bertemu seorang perempuan di tepi sungai Nil. Perempuan ini yang pada akhirnya memperkenalkan profesi "pelacur" kepada Firdaus. Sebelum umur 25, Firdaus telah memiliki apartemen mewah plus pelayan pribadi. Firdaus cuma tahu satu: ia terbebas dari despotisme lelaki di dalam rumah tangga. Namun, "lelaki" tetaplah sebuah kengerian. Dan kengerian mesti dimusnahkan.
Dalam sebuah janji kencan, seorang lelaki mulai menggerayangi Firdaus. Firdaus bergeming, lalu menancapkan pisau ke seluruh tubuh lelaki itu. Ke dada, ke perut, ke leher. Darah muncrat, dan Firdaus seperti melakukan kemustahilan. Namun, menakjubkan.
Firdaus didakwa melakukan pembunuhan, dan harus dihukum mati. Firdaus menampik grasi dan menerima mati. Firdaus merasa terbebas dari kejamnya dunia luar. Di sini, penjara dan kematian adalah pembebas yang subtil. Firdaus mati dengan alasan-alasan tak berhingga. Apakah ini absurd?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar